Rabu, 05 Maret 2014

Tingkatan CINTA di dalam Al Quran

Tingkatan CINTA di dalam Al Quran
oleh: Ust.Wahfiuddin,MBA 
(dikutip dari buletin jumat MMBI Edisi 445/1 Juni 2012)


Seluruh makhluk hidup diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan dari jenisnya masing-masing. Manusia dengan manusia, tumbuhan dengan tumbuhan, serta hewan pun dengan hewan. Menikah bukanlah sebuah ikatan main-main antara pasangan. 

Seperti firman Allah SWT di dalam surat Ar Rum Ayat 21 " Dan diantara tanda-tanda (KebesaaranNya) Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantarum rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir." 

Ikatan dan janji suci sepasang kekasih yang telah dipertemukan oleh Allah SWT dan ditakdirkan untuk bersatu seraya membangun sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Menikah dengan tujuan mencari ridho Allah SWT akan selalu dibimbing dan dilindungi Allah SWT serta dapat terhindar dari bahaya dan terjerumus ke dalam sebuah kemaksiatan.
Menikah di rumah Allah  diawali dengan pembacaan Al-Qur'an yang suci. Ingatlah selalu bahwa pernikahan sesungguhnya bukan hanya perikatan keperdataan, bukan semata-mata ikatan dua individu manusia, tetapi sesungguhnya perikatan ini melibatkan dimensi spiritual, melibatkan dimensi langit, karena kita semua menyertakan Allah SWT di dalam sebuah pernikahan dan para malaikat pula menyaksikan dan mendoakan kita semua yang tengah melangsungkan sebuah pernikahan dengan mengharapkan ridho Allah SWT.

Di dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW berpesan "Siapa yang menikah dan telah berkeluarga maka ia telah memenuhi separuh dari kewajiban-kewajiban keagamaannya". Dunia barat yang sekuler seakan-akan menganggap agama adalah sebuah hubungan manusia dengan TuhanNya saja, hanya melaksanakan ibadah ritual yang vertikal. Tetapi di dalam Islam agama ada dimensi vertikal dengan Tuhan dan ada dimensi sosial yaitu hubungan dengan sesama manusia, hubungan sosial di dalam lingkup yang mikro yaitu keluarga, maka seseorang yang mengurus keluarganya dengan baik, membangun kehidupan kekeluargaan berarti dia telah memenuhi tugas separuh kewajiban agamanya.

Dua hal yang harus dijaga di dalam berkeluarga yaitu, aqidah tauhid yang jangan sampai dirusak dengan perbuatan syirik, dan jangan pernah sekalipun meninggalkan shalat. Dengan kedua kunci tersebut maka kunci surga sudah dapat kita raih. Hidup berkeluarga adalah kehidupan menunaikan ibadah agama, maka dengan menunaikan ibadah kehidupan dengan baik separuh kewajiban agama telah kita tunaikan. di dalam Islam sangat ditekankan bahwa yang disebut manusia bukan semata-mata tubuh fisik lahiriah. Sesungguhnya hakekat manusia adalah ruh yang diciptakan oleh Allah SWT di alam lahut.
Makhluk ruhaniah ini dihadirkan masuk kedalam tubuh dan ketika tubuhnya mati, ruh dikeluarkan dari tubuh dan melanjutkan ke kehidupan berikutnya. jangan pernah menganggap pernikahan semata-mata ikatan dua tubuh. ketika kita menganggap pernikahan hanya ikatan dua tubuh maka sesungguhnya pernikahan hanyalah legalisasi atau pengesahan hubungan antar tubuh dan ketika salah satu tubuhnya mati maka perkawinan telah dianggap selesai. Manusia adalah ruh dan perkawinan merupakan ikatan ruhaniah maka ketika salah satu tubuhnya menjadi tua, menjadi tidak berdaya, fisiknya menjadi lemah, kekuatan ruh akan tetap saling terikat.
Cinta didalam Al Quran disebut dengan beberapa istilah yang menunjukkan pula gradasi cinta tersebut.


(pertama), cinta disebut dengan hubbah atau mahabah, berasal dari kata habbal. Mahabbah berarti mencintai kepada, cenderung kepada, atau tertarik kepada. Kecenderungan kepada lawan jenisnya untuk memiliki keturunan. Mahabbah adalah cinta yang hanya sekedar cenderung dan tertarik. Dan ini merupakan cinta kelas paling rendah, hanya karena penampilan-penampilan lahiriah orang saling tertarik. Jika mahabbah telah menghiasi diri dan diikat dengan pernikahan, maka muncul yang (kedua) mawaddah dan (ketiga) warahmah. Mawaddah berarti memiliki, merengkuh, memeluk dan menjadikan bagian diri sendiri serta mengambil alih tanggung jawab.
Warahmah memiliki arti cinta yang  berasal dari kata rahmah yang artinya mamberi, melimpahkan, berbagi. jika mahabbah hanya saling cenderung dan tertarik, kemudian mawaddah saling memiliki dan warahmah saling memberi. Mawaddah dan warhmah ini cinta yang sudah menuntut komitmen, tanggung jawab dan pengorbanan. Hingga kita mampu menuju ke tingkat yang lebih tinggi, yang di dalam Al-Quran disebut dengan ridho. berasal dari kata Raudiyah, yang berarti membiarkan dimana kita mencintai pasangan kita dengan memberi kebebasan.
Pasangan suami istri yang telah mencintai dengan ridho pasangannya akan menerima segala kekurangan dan memberi kebebasan tanpa syarat apapun kepada pasangannya. Ketika suami dan istri mengejar ridho didalam rumah tangga, jangan pernah melupakan untuk mengejar ridho Allah SWT. Sebab idup hanya akan memiliki akhir yang indah ketika malaikat ijrail datang menyapa kita karena ridho Allah SWT. Orang tua merupakan bagian terpenting di dalam kehidupan seorang anak. Ketika pasangan suami istri tengah berusaha mengejar ridho Allah maka ridho yang harus diraih adalah ridho orang tua, karena ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua.

Jangan pernah menyakiti orang tua karena sudah barang tentu Allah tidak akan meridhoi kehhidupan rumah tangga yang akan kita bangun. Semoga kita selalu mendapatkan ridho orangtua di dalam setiap hal dan Allah SWT pun akan meridhoi umat Nya di dalam setiap hal yang dilakukannya. Amieen.

Inilah Cara Sehat dan Simpel Buang Racun dari Dalam Tubuh

 

Inilah Cara Sehat dan Simpel Buang Racun dari Dalam Tubuh
Inilah Cara Sehat dan Simpel Buang Racun dari Dalam Tubuh
Iseng-iseng jalan di yahoo nemu trit asyik, akhirnya ane copas deh (walopun ada sedikit penambahan ilustrasi), cekibroot....

DREAMERSRADIO.COM - Membuang racun atau detoksifikasi sangat penting untuk tetap sehat dan bugar. Karena gaya hidup dan makanan yang tidak sehat, tubuh kita pun terakumulasi oleh banyak racun. Belum lagi bagi mereka para perokok dan peminum minuman beralkohol. Racun tersebut pun secara perlahan bisa merusak organ dan fungsi tubuh.
Oleh karena itu, sangat penting untuk membuang racun dari dalam tubuh, yang sekaligus bisa menurunkan berat badan. Dilansir Boldsky, inilah berbagai cara simpel dan sehat untuk membuang racun dari dalam tubuh:

 1. Air hangat, madu, lemon
Cara paling umum untuk membuang racun adalah dengan meminum air hangat dengan campuran madu dan air lemon setiap pagi hari. Ambillah satu gelas air hangat, tambahkan satu sendok madu dan beberapa tetes air lemon. Ulangi cara ini setiap hari di waktu pagi.


2.Jus lidah buaya
Lidah buaya atau aloe vera memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya adalah membuang racun dari dalam tubuh. Lidah buaya memiliki banyak kandungan anti oksidan yang membantu mengangkat kimia racun dalam tubuh kita. Minumlah satu gelas jus lidah buaya pada pagi atau sore hari secara rutin agar racun dalam tubuh benar-benar terbuang.
3. Jus bawang putih
Memang aneh rasanya melihat bawang putih dibuat sebagai jus. Namun bawang putih memiliki anti oksidan dan anti mikorba untuk bersihkan racun dari dalam tubuh. Bawang putih yang dijus atau dimakan mentah sangat baik untuk membersihkan jalur pencernaan dan membuang racun.

4. Makanan berserat
Untuk membuang racun dari dalam tubuh secara alami, kamu harus mengonsumsi makanan mengandung serat. Serat bisa membersihkan sistem pencernaan dan mengangkat zat kimia yang tak diperlukan tubuh. Makanan berserat terdiri dari sayuran mentah, buah-buahan, dan biji-bijian.
5. Teh herbal
Teh hijau, teh hitam, teh kayu manis, dan jenis teh herbal lainnya juga baik untuk membersihkan tubuh dari racun. Minumlah segelas teh herbal setiap hari dan kamu bisa merasakan perbedaannya.

(ctr)

Senin, 18 November 2013

KUJANG

by Japra Deui on Wednesday, April 6, 2011 at 9:59pm


Kujang dikenal sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda)yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.



 

 
 
 

Kujang Kuntul
 
 
Kujang Ciung

Kujang Naga
 
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.



Bagian-bagian Kujang

Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

 Mitologi

Menurut orang tua ada yang memberikan falsafah yang sangat luhur terhadap Kujang sebagai;

Ku-Jang-ji rek neruskeun padamelan sepuh karuhun urang
Janji untuk meneruskan perjuangan sepuh karuhun urang/ nenek moyang yaitu menegakan cara-ciri manusa dan cara ciri bangsa.

 Cara-ciri Manusia ada 5
  1. Welas Asih (Cinta Kasih),
  2. Tatakrama (Etika Berprilaku),
  3. Undak Usuk (Etika Berbahasa),
  4. Budi Daya Budi Basa,
  5. Wiwaha Yuda Na Raga (Ngaji Badan).
 Cara-ciri Bangsa ada 5
  1. Rupa,
  2. Basa,
  3. Adat,
  4. Aksara,
  5. Kebudayaan
Sebetulnya masih banyak falsafah yang tersirat dari Kujang yang bukan sekedar senjata untuk menaklukan musuh pada saat perang ataupun hanya sekedar digunakan sebagai alat bantu lainnya.

Diperoleh dari: 1. "http://id.wikipedia.org/wiki/Kujang", 2. Sumber ilustrasi dari blog sahabat (lupa alamatnya).